Dua TKW Sumbawa Lumpuh akibat Kecelakaan Kerja di Arab Saudi

MATARAM,GOMONG.COM – Dua orang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Sumbawa, NTB, menderita luka berat dan menyebabkan lumpuh setelah bekerja di Arab Saudi. Seorang diantaranya dirawat di RSU Provinsi NTB di Mataram, sementara satu lainnya masih dirawat di rumah, menunggu uluran tangan dermawan.

ilustrasi TKW/GOMONG.COM

Selvia, perempuan berusia 27 tahun, warga Dusun Dalem, Desa Alas, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, terbaring lemas di bangsal lantai 3 kamar 315 RSUP NTB di Mataram, sejak Senin malam (15/11). Selvia diduga mengalami retak tulang punggung belakang, akibat kecelakaan kerja di Arab Saudi. Kasus Selvia baru diketahui setelah, pihak keluarga menghubungi Perkumpulan Panca Karsa (PPK) Mataram, sebuah lembaga non pemerintah peduli TKI di NTB, Selasa pagi (16/11). ”Kami baru dapat laporannya dan kini memberi dampingan untuk Selvia. Kondisinya cukup parah, Selvia lumpuh dan kakinya mulai mengecil sebelah,” kata koordinator PPK Mataram, Endang Susilowati. Menurutnya, Selvia berangkat menjadi TKW di Arab Saudi sejak pertengahan 2007 melalui sebuah PJTKI di Jakarta. Pada Juli 2010, Selvia kembali ke kampung halamannya di Sumbawa, dengan kondisi sakit, terluka di bagian punggung hingga pinggang belakang. ”Dia mengalami retak tulang belakang, diduga karena dipaksa mengangkat tabung gas terlalu berat, oleh majikannya di Arab Saudi. Waktu pulang ke Sumbawa bulan Juli masih bisa jalan walaupun membungkuk dan kakinya diseret, tapi kondisinya makin memburuk,” katanya. Sebelum dirujuk ke RSUP NTB di Mataram, papar Endang, Selvia sempat dirawat di Puskesmas Alas Sumbawa, selama dua pekan. Endang berharap intervensi pemerintah daerah NTB untuk penanganan kasus Selvia. Sebab, saat masuk ke RSUP NTB ternyata Selvia tidak langsung dilayani kebutuhan obatnya, lantaran namanya tidak tercantum dalam daftar penerima Jamkesmas, dan Jamkesmasda NTB. Apalagi, rumah Selvia yang berada jauh di Sumbawa membuat pihak keluarga harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk menunggu Selvia selama dirawat di RSUP Mataram. ”Sejak Senin malam, hanya diberi infus, sementara delapan jenis obat harus ditebus dulu. Selasa siang kemarin, kami tebuskan obatnya baru dilayani. Harusnya Pemda bisa peka untuk kasus seperti ini,” katanya. Menurut Endang, kasus Selvia ini termasuk kasus kecelakaan kerja sehingga pihak perusahan pengerah jasa TKI dan majikannya di Arab Saudi harus bertanggung jawab atas biaya pengobatan dan asuransinya. PPK Mataram sudah melaporkan kasus Selvia ke Dinas Tenaga Kerja Provinsi NTB, dan berkoordinasi untuk menelusuri perusahaan PJTKI dan pihak majikan Selvia. ”Selvia ini dipulangkan begitu saja oleh majikannya, dalam kondisi luka. Kami akan upayakan hak-haknya,” kata Endang. Selain Selvia, menurut Endang, ada satu TKW Sumbawa lagi korban kecelakaan kerja di Arab Saudi, yakni Nani Asa Binti Sahabuddin Muda, perempuan 28 tahun, warga Desa Kukin, Kecamatan Moyo, Kabupaten Sumbawa. ”Keluarganya baru saja melaporkan ke kami. Kondisi Nani ini juga lumpuh, tapi sampai sekarang hanya dirawat di rumah karena tidak ada biaya. Staf kami sedang ke Sumbawa untuk mengeceknya,” katanya. Berdasarkan laporan, papar Endang, Nani berangkat TKW ke Arab Saudi sejak Oktober 2006 melalui PT Duta Sapta Perkasa, Jakarta. Nani bekerja di Al-Qasim, Arab Saudi, hingga Oktober 2009. Ia juga pulang ke Sumbawa dalam kondisi sakit, diduga akibat kecelakaan kerja. Namun hak-haknya diabaikan oleh PJTKI dan juga majikannya di Arab Saudi. Berdasarkan catatan PPK Mataram, sepanjang 2010 hingga Oktober terjadi sedikitnya 300 kasus TKI asal NTB. 67 diantaranya kasus kekerasan dan kecelakaan kerja, sementara lainnya kasus pemalsuan dokumen, penipuan, PHK tanpa gaji, dan kasus hilang kontak. Provinsi NTB merupakan daerah terbesar kedua sebagai pengirim TKI ke luar negeri setelah Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data BP3TKI NTB, sepanjang 2009 lalu NTB mengirimkan sebanyak 46 ribu TKI dengan daerah tujuan dominan Malaysia, disusul Arab Saudi dan negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Jordan, juga sebagian negara asia Singapura, Korea dan Jepang. Hingga saat ini tercatat lebih dari 500ribu TKI asal NTB bekerja diluar negeri dengan besar remitansi yang dikirimkan rata-rata pertahun mencapai Rp600 miliar, atau hampir separuh dari besarnya dana APBD NTB yang rata-rata 1,4 Triluin per tahun. Namun, masalah para TKI seolah tak pernah tuntas menimpa TKI dan TKW asal NTB.(gra/LOMBOK)

2 Comments

  • sy wan muhamad khairudin,sy mcari kerja di bhgian kapal,deck ratingossy ad sijil,kad pelaut dn sijil jabatan laut.

  • Kasian bnget tu kedua tkwx,,masA untk pngobtanx hrus nunggu biaya,di obatin dong pahlwan devisax,,apa mreka jd phlwan kalo mreeka slma jd tkw,apa kalo udah plng kmpung phlwan deeeeeevisaaAaax di buang ke tong sampah

Leave a Reply