SUNGAI BRANG REA TERCEMAR MERCURI

Limbah Mercuri Tambang Emas "Gelondongan" ilegal

SUMBAWA BARAT,GOMONG.COM- Aktivitas masyarakat Desa Tepas, Sepakat dan Moteng Sepat, yang melakukan “Penggelondongan” emas secara ilegal telah mencemari Sungai Brang Rea Kabupaten Sumbawa Besar. Wartawan Gomong.Com yang melakukan peninjauan lokasi, Senin, menyaksikan limbah ratusan Gelondongan emas dibuang ke saluran yang bermuara ke Sungai Brang Rea.

Bahkan limbah penggelondongan emas yang dilakukan di halaman rumah penduduk dibuang ke saluran irigasi, yang mengairi ratusan hektar sawah. Aktivitas yang tidak lagi menghiraukan keselamatan kesehtan dan jiwa itu kian bertambah setiap minggunya dan aparat setempat tak berdaya. Kepala Desa Persiapan Moteng, Heru Susilo menyatakan pihaknya sudah kewalahan  dan hal itu tidak boleh dibiarkan. Pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa, karena pihak kecamatan bahkan Kabupaten Sumbawa Barat hingga saat ini belum bertindak tegas. Dia mengakui bahwa dari 220-an Kepala Keluarga warganya, sebagian mulai mengalihkan mata pencaharian dengan melakukan penambangan secara ilegal.

Penggalian ilegal dilakukan masyarakat di sekitar bukit yang berada di kawasan Desa. “Penggalian yang sama juga dilakukan masyarakat di gunung-gunung tidak jauh dari pemukiman,” katanya. Dan hasilnya diproses dengan menggunakan jasa penggelondongan yang tersebar di Desa Sepat dan Sepakat Bahkan ada juga penambangan tidak jauh dari SPBU kota Taliwang.

Sementara itu, Sofyan, staf Badan Lingkungan Hidup Sumbawa Barat menyatakan bahwa pihaknya telah berulangkali mengingatkan masyarakat akan bahaya limbah Mercuri dari aktivitas penggelondongan emas secara ilegal, tetapi mereka tidak peduli.

Hasil penelitian menunjukkan pencemaran air limbah yang bermuara di sungai setempat telah melampaui ambang batas normal. Sehingga bila aktivitas masyarakat secara ilegal itu dibiarkan, pencemaran Sungai Brang Rea akan mengancam kesehatan masyarakat di pesisir sungai. Menurutnya aktivitas masyarakat tidak hanya menggunakan ratusan gelondongan tetapi juga “Tong” yang mampu memproses 300 s/d 400 karung bahan baku emas, yang bahannya juga berbahaya.

Menjawab pertanyaan wartawan, salah seorang petugas Tong mengaku hasil pendapatan sehari mencapai sedikitnya 500 gram emas. Penghasilan demikian itu telah “membutakan” masyarakat sehingga tidak lagi memperdulikan bahaya Mercuri atas kesehatan dan keselamatan jiwa mereka. (Alf)

1 Comment

  • saya hanya bisa menyumbang usulan, mudah2an bs d pertimbangkan bagi yg berkepentingan: untuk memberhentikan kegiatan pertambangan rakyat mungkin sangat2 susah apa lagi berkaitan dengan emas, usulan saya mungkin apa bila untuk proses pengglondongannya d buatkan lokasi yg terpusat dengan fasilitas fasilitas pengolahan air buangan (limbah mercuri) dari proses glondong…

Leave a Reply