Pengunjukrasa Minta Kapolda NTB Dicopot

foto yety/gomong.com. Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. Arief Wachyunadi

MATARAM, GOMONG.COM – Pengunjukrasa yang tergabung dalam Front Berantas Kejahatan Indonesia (FBKI) NTB mendesak untuk segera mencopot Kapolda NTB, Brigjen Pol Arif Wachyunadi dari jabatannya, karena tidak mampu menuntaskan “Tragedi Makaki Berdarah” di Lombok Barat.

“Pembiaran aparat kepolisian terhadap intimidasi serta pembantaian sejumlah warga masyarakat adat Makaki tidak terlepas dari adanya konspirasi dengan pihak PT Teluk Makaki Indah,” demikian Kordinator umum aksi, Sri Sudardjo, saat berunjukrasa di depan Kanwil Hukum Dan HAM, dan Polda NTB, Kamis, (12/4).

Menurutnya, pihak kepolisian tidak bersungguh-sungguh mengusut tuntas tragedi berdarah terhadap masyarakat adat Makaki. Terbukti, hingga saat ini sejumlah pelaku  pemunuhan  yang sudah masuk dalam pencarian orang (DPO), masih leluasa berkeliaran. Kalau tidak ada konsfirasi dengan pihak pengembang yang kini menguasai lahan tersebut, tentunya tidak sulit untuk menangkap pelaku termasuk dalangnya, yang dicurigai justru oleh pihak perusahaan.

Sebab lahan seluas 500 hektar yang dikuasai masyarakat tersebut semula akan dijadikan lahan konsevasi, dan penduduknya ditransmigrasikan ke pulau  Sumbawa, Namun dalam kenyataannya, lahan yang telah dikuasai masyarakat adat secara turun temurun itu diberikan kepada PT Teluk Makaki Indah. “Mengetahui lahannya bukan untuk kepentingan konservasi, akhirnya masyrakat menuntut kembali, dan sejak itulah terjadi intimidasi oleh oknum tertentu serta aparat, yang puncaknya terjadi tragedi berdarah Makaki,” katanya.

Ditambahkan, masyarakat juga  berupaya mengusir PT Teluk Makaki Indah, karena keberadaan perusahaan tersebut telah mengakibatkan terjadinya konflik horizontal ditengah masyarakat, yang selama ini hidup rukun. Sejak dikuasainya lahan masyarakat Adat Makaki oleh perusahaan tersebut, kehidupan masyarakat adat setempat menjadi kacau, dan hidup dalam ketakutan. “Yang lebih parah  lagi, pihak kepolisian  pernah mengiming-iming saksi kunci atas nama Basri dengan uang Rp50 juta. Apa maksud pemberian uang sebanyak itu,” katanya.

Masyarakat adat Makaki tersebut didampingi Front Aksi Berantas Kejahatan Indonesi (LABKI), SDK, STN, LMND, KIPRAH NTB, PC GP ANSOR NU NTB, PMII CAB. MTR, PKC PMII NTB, WIN INSTITUT, PC KMHDI MTR, HIPMI NTT, FKPPMS, DPM IKIP BEM IAIN Mataram. (Alf)

Leave a Reply